jump to navigation

Apakah Benar Surah Annisa:24 adalah dalil dibenarkannya nikah Mut’ah ? 28 April 2011

Posted by just.ery in Islam.
trackback

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Di dalam sebuah diskusi ada seorang penghujat bertanya mengenai surat Annisa ayat 24 yg merupakan dasar pembenaran dari nikah mut’ah..

sehingga dia mengatakan kalau Islam telah membuat wanita direndahkan ataupun telah menjadikan perempuan menjadi ajang pelacuran..(mrk sengaja menyerang islam dgn mengambil ajran dari syiah, padahal syiah itu diluar islam).

inilah postingannya

QS 4: 24 Also (prohibited are) women already married except those whom your right hands possess. Thus hath Allah ordained (prohibitions) against you: except for these all others are lawful provided ye seek (them in marriage) with gifts from your property desiring chastity not lust. Seeing that ye derive benefit [istama'tum] from them give them their dowers [ujurahunna] (at least) as prescribed; but if after a dower is prescribed ye agree mutually (to vary it) there is no blame on you and Allah is All-Knowing All-Wise.

Allah (swt) has used the word istimta’tum, which is the verbal form of the word Mut’ah. While the word has many other numerous meanings (as will be discussed below), we see that in the same way that the terms Zakat, Saum, and hajj carry a specific Islamic definition, so does the word istimta’. The specific, Islamic meaning which the word refers to is the performance of a temporary marriage, and nobody has denied this.

terjemahannya

QS 4: 24 Juga (dilarang yaitu) perempuan yang sudah menikah, kecuali mereka yang dimiliki tangan kananmu. Demikianlah Allah telah ditahbiskan (larangan) terhadap Anda: kecuali untuk ini semua orang lain disediakan halal kamu mencari (mereka dalam perkawinan) dengan hadiah dari properti Anda menginginkan kesucian tidak nafsu. Melihat yang menguntungkan [istama'tum] kamu berasal dari mereka memberi mereka dowers mereka [ujurahunna] (minimal) seperti yang ditentukan, tetapi jika setelah mahar adalah ditentukan kamu saling setuju (untuk bervariasi itu) maka tidak ada dosa pada Anda dan Allah adalah Maha Mengetahui Maha Bijaksana.

Allah (swt) telah menggunakan istimta’tum kata, yang merupakan bentuk verbal dari kata mut’ah. Walau kata memiliki banyak arti banyak lainnya (sebagaimana akan dibahas di bawah), kita melihat bahwa dengan cara yang sama bahwa istilah Zakat, Saum, dan haji membawa definisi Islam tertentu, demikian juga kata istimta ‘. Makna, kata spesifik Islam yang merujuk kepada adalah kinerja dari perkawinan sementara, dan tidak ada yang membantah ini.

Jawab :

menafsirkan firman Allah fama istamta’tum dengan nikah mut’ah adalah jauh dari kebenaran dan tidak logis serta cenderung mengikuti yang mutasyabih. Padahal kaidah kita adalah mengembalikan yang mutasyabih kepada yang muhkam. Kenapa saya katakan mutasyabih? Karena kata istimta’ tidaklah bermakna mut’ah walaupun berasal dari isytaq (derivat) yang sama dalam bahasa Arab. Ayat ini bersifat mutasyabih tidak qath’i fi fi dilalatihi (pasti penunjukannya) kepada makna nikah mut’ah.

Catatan

mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar. mutasyabih diambil dari kata tasyâbaha – yatasyâbahu, artinya keserupaan dan kesamaan, terkadang menimbulkan kesamaran antara dua hal. Mutasyabih adalah ayat-ayat yang makna lahirnya bukanlah yang dimaksudkannya. Oleh karena itu makna hakikinya dicoba dijelaskan dengan penakwilan. Bagi seorang muslim yang keimanannya kokoh, wajib mengimani dan tidak wajib mengamalkannya. Dan tidak ada yang mengetahui takwil ayat-ayat mutasyabihât melainkan Allah swt.

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih Secara Khusus

Muhkam dan mutasyabih terjadi banyak perbedaan pendapat. Yang terpenting di antaranya sebagai berikut:

1. Muhkam adalah ayat yang mudah diketahui maksudnya, sedangkan mutasyabih hanya Allah-lah yang mengetahui akan maksudnya.

2. Muhkam adalah ayat yang dapat diketahui secara langsung, sedangkan mutashabih baru dapat diketahui dengan memerlukan penjelasan ayat-ayat lain.

Para ulama memberikan contoh ayat-ayat muhkam dalam al-Qur’an dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Seperti halal dan haram, kewajiban dan larangan, janji dan ancaman.

Sementara ayat-ayat mutasyabih, mereka mencontohkan dengan nama-nama Allah dan sifat-Nya, seperti:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْض (البقرة: 255)

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”.

اَلرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5)

“Yang Maha Pengasih, yang bersemanyam di atas ‘Arsy”.

تَجْرِى بِأَعْيُنِنَا جَزَاءًا لِمَنْ كَانَ كُفِرَ (القمر: 14)

“(bahteranya nabi Nuh as) berlayar dengan pantauan mata Kami. (seperti itulah musibah yang Kami turunkan) sebagai balasan bagi orang yang ingkar”.

إِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنَّمَايُبَايِعُوْنَ اللهَ, يَدُ اللهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ (الفتح: 10)

“Sesungguhnya orang-orang yang membai’at-mu ya Rasul, mereka-lah yang berikrar menerima (bahwa Tuhan mereka) adalah Allah. Tangan Allah diatas tangan-tangan mereka”.

وَلاَتَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لاَإِلَهَ إِلاَّ هُوَ كُلُّ شَيْئٍ هَالِكٌ إِلاَّ وَجْهَهُ (القصص: 88)

“dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa kecuali (wajah) Allah”.

Istimta’ sendiri dalam bahasa Arab bermakna at-Taladzdzudz wal Intifa’ (berlezat-lezat dan bersenang-senang). Istimta’ (berlezat-lezat/bersenang-senang) dapat terjadi dalam hal makanan, sebagaimana firman Allah :

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعاً لَّكُمْ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat (mata’an) bagimu.” (QS al-Maidah : 96).

Dapat juga terjadi dalam hal berpakaian :

وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثاً وَمَتَاعاً إِلَى حِينٍ

“Dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (mata’an) sampai waktu (tertentu).” (QS an-Nahl : 80)

Juga dapat terjadi pada harta, sebagaimana dalam QS al-Baqoroh : 236, juga di dalam jima’ (persetubuhan) sebagaimana dalam QS an-Nisa : 24 di atas, yaitu :

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ

“Maka isteri-isteri yang telah kami nikmati (istimta’) diantara mereka”, maksudnya adalah : yang kamu campuri dan berjima’ padanya. Karena jima’ merupakan bentuk istimta’ yang paling khusus dan paling nikmat bagi manusia. Untuk itulah Alloh memberikan kenikmatan ini bagi hamba-hamba-Nya dalam koridor yang halal, yaitu nikah atau di dalam budak (ma malakat ‘aimanukum).

Di al-Qur’an, kata yang ber-isytaq (derivat) istimta’ ada lebih dari 60 ayat, dan tidak ada satupun yang bermakna mut’ah. Bahkan dalam beberapa ayat, istimta’ bermakna tercela dan diancam oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman Alloh Azza wa Jalla :

وَيَوْمَ يِحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الإِنسِ وَقَالَ أَوْلِيَآؤُهُم مِّنَ الإِنسِ رَبَّنَا <span>اسْتَمْتَعَ</span> بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِيَ أَجَّلْتَ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَليمٌ

“Dan (Ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu Telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya sebahagian daripada kami Telah dapat kesenangan (istamta’a) dari sebahagian (yang lain) dan kami Telah sampai kepada waktu yang Telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka Itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’am : 128)

Atau firman-Nya :

قُلْ تَمَتَّعُواْ فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ

“Katakanlah: “Bersenang-senanglah (ber-istimta’-lah) kamu, Karena Sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS Ibrahim : 30).

apabila QS an-Nisa’ : 24 dapat difahami sebagai nikah mut’ah, kenapa dalam dua ayat di atas tidak dikatakan yang sama, yaitu bermakna nikah mut’ah…?!! Padahal keduanya berasal dari derivat kata yang sama dengan mut’ah. Untuk itulah saya katakan, kata istimta’ dalam ayat di atas tidak muhkam dan tidak tegas dilalah-nya, karena memiliki makna yang banyak. Untuk itulah kita harus mengembalikannya kepada yang muhkam.

Jadi kesimpulannya An-nisa 24 tidak bisa menjadi landasan di halalkannya nikah mut’ah



About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: